pejuangan hidup tak sedangkal laut.
sesak sekali nafasku. hujan deras diadu petir bertumpu di kaki langit. menyertai langkah kakiku yang telah kaku. dingin.lapar.pusing.tenggorokan rasanya tercekik menahan jatuhnya air mata.
rasanya, seperti orang terbuang.
rupanya kondisiku tak cukup menyedihkan. buktinya, ketika aku bertanya pada seorang penjual nasi goreng di pinggir jalan itu,
"permisi, Buk, di dekat sini ada wartel?"
"di telkom situ,atau di toko depannya" jawab si Ibu.
"di sana tutup semua Buk, selain itu di mana ya?" kataku.
"wah, di dekat sini gak ada.Adek mau sms? Saya bisa meminjami handphone klau mau."
"Saya mau telpon Buk.."
"di dekat sini gak ada wartel" katnya.
rasanya tambah sesak nafasku. Arah jalanku pasti.tapi tak sepasti tujuanku. sempat aku berpikir, nanti malam apa aku msih bsa bertmu kluargaku?
sesak sekali nafasku. hujan deras diadu petir bertumpu di kaki langit. menyertai langkah kakiku yang telah kaku. dingin.lapar.pusing.tenggorokan rasanya tercekik menahan jatuhnya air mata.
rasanya, seperti orang terbuang.
rupanya kondisiku tak cukup menyedihkan. buktinya, ketika aku bertanya pada seorang penjual nasi goreng di pinggir jalan itu,
"permisi, Buk, di dekat sini ada wartel?"
"di telkom situ,atau di toko depannya" jawab si Ibu.
"di sana tutup semua Buk, selain itu di mana ya?" kataku.
"wah, di dekat sini gak ada.Adek mau sms? Saya bisa meminjami handphone klau mau."
"Saya mau telpon Buk.."
"di dekat sini gak ada wartel" katnya.
rasanya tambah sesak nafasku. Arah jalanku pasti.tapi tak sepasti tujuanku. sempat aku berpikir, nanti malam apa aku msih bsa bertmu kluargaku?







